Amirul Mukminin Umar bin al-Khatthab menerima sepucuk surat. Surat tersebut menyatakan bahawa kota Ubullah, sebuah kota yang hampir dengan Bashrah termasuk sumber terpenting yang membantu pasukan Parsi yang kalah dengan harta dan bala tentara. Umar bertekad untuk menghantar pasukan bagi menakluk Ubullah dan menyekat bantuannya kepada pasukan Parsi, namun tidak kesampaian kerana bilangan mereka yang terlalu sedikit.
Hal ini terjadi kerana kaum muslimin, baik yang muda maupun yang tua telah berangkat menjelajah bumi sebagai mujahid di jalan Allah, sehingga hanya sedikit sahaja yang tinggal. Namun bukan Umar namanya kalau dia menyerah begitu sahaja, dia menarik anak panahnya di depannya, dia mula mengasah potensi mereka satu demi satu, tidak berapa lama kemudian, Umar pun mendapatkannya.
Pagi tiba, Umar berkata, “Panggil Utbah bin Ghazwan untukku.” Umar menyerahkan panji pasukan yang berkekuatan tiga ratus pasukan lebih sedikit kepadanya sambil menjanjikan akan mengirimkan bantuan susulan jika memungkinkan.
Setelah dilepas dan dinasihati oleh Amirul Mukminin, Utbah bin Ghazwan berangkat bersama pasukannya disertai istrinya dan lima orang wanita lainnya dari kalangan istri dan saudara sebagian pasukannya, sehingga mereka tiba di sebuah tanah yang banyak ditanami bambu tidak jauh dari Ubullah, saat itu mereka tidak mempunyai apa pun untuk mereka makan.
Kelaparan mendera mereka, maka Utbah berkata kepada beberapa orang pasukannya, “Carilah sesuatu dari bumi ini yang bisa kami makan.”
Maka mereka berangkat mencari apa yang bisa menahan lapar mereka. Dan akhirnya mereka mempunyai sebuah kisah dengan makanan yang diceritakan salah seorang dari mereka.
Dia berkata,
Manakala kami mencari sesuatu yang bisa kami makan, kami masuk ke sebuah hutan dengan pohon-pohon yang lebat, kami menemukan dua macam pohon, yang pertama adalah kurma, sedangkan yang kedua adalah biji-biji kecil yang terbungkus dengan kulit yang berwarna kekuning-kuningan, kami memetik keduanya dan membawanya ke markas pasukan. Salah seorang dari kami melihat biji-bijian kecil tersebut, dia berkata, “Ini adalah racun yang dipasang oleh musuh, jangan mendekatinya.” Maka kami memilih kurma dan menyantapnya.
Ketika kami sedang menyantap kurma, tiba-tiba seekor kuda kami yang terlepas dari kekangnya mendekati biji-biji kecil tersebut, ia memakannya, demi Allah kami hampir menyembelihnya sebelum ia mati untuk mengambil dagingnya. Namun pemiliknya mencegah kami, dia berkata, “Biarkan ia, malam ini aku akan mengawasinya, jika aku merasa ia akan mati maka aku akan menyembelihnya.”
Pagi tiba, kami melihat kuda tersebut sehat wal afiat tidak kurang suatu apa. Maka saudara perempuanku berkata kepadaku, “Saudaraku, aku pernah mendegar bapak berkata bahwa jika racun dipanaskan dengan api maka ia tidak berbahaya.”
Kemudian saudara perempuanku itu mengambil sebagian biji-bijian kecil tersebut dan meletakkannya di bejana dan selanjutnya menyalakan api di bawahnya.
Tidak lama berselang saudara perempuanku memanggil, “Kemarilah kalian, lihatlah, warnanya berubah menjadi kemerah-merahan.” Kemudian biji-bijian itu terbelah dan terpisah dari kulitnya dan meninggalkan bulir-bulir berwarna putih.
Kami meletakkannya di sebuah nampan untuk menyantapnya. Utbah berkata, “Sebutlah nama Allah atasnya dan makanlah.” Maka kami menyantapnya dan ternyata rasanya sangat nikmat. Kemudian kami mengetahui setelah itu bahwa biji-bijian tersebut bernama al-Aruz (beras).
(Izzudin Karimi) Hit : 199 |
Jangan tipu para Ustaz !
12 tahun yang lalu




Tiada ulasan:
Catat Ulasan